Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 17
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [15] [16] [17] [18] [19] ... [33]
 

 

Kalau selama menggunakan “Kunci”, belum betul betul mendapatkan pengalaman, pembuktian, bahwa Hidup telah menuntun dan melindungi kita, jangan dulu tergesa-gesa, minta diberikan kelanjutannya.

Tekuni dulu, menggunakan “Kunci”, biarkan hidup memberikan bukti kemampuannya mengatur, menuntun dan melindungi, sampai kita benar benar yakin. Kalau semua itu sudah terjadi, itu baru “satu arah”. Artinya dari Hidup ke Kita manusianya. belum bisa dari Kita manusianya ke Hidup, komunikasinya. Jadi, baru komunikasi satu arah. Hidup ke Raga (manusianya). Raga (manusianya) ke Hidup, belum bisa.

Bagaimana?

Apakah sudah mantap mau melanjutkan?

Sudah? Baik. Silahkan.

 

“A S M O” - Sarana Gaib II

Pada waktu kita lahir, orang tua kita hanya melihat bayi yang lahir itu, yang tampak oleh panca Indera. Jadi, yang diberi nama (asmo), hanya raganya bayi. Padahal, bayi yang lahir terdiri dari Raga dan Hidup di dalamnya. Maka, wajar kalau yang dikembangkan selanjutnya, hanya Raganya.

Kalau ingin bisa berhubungan, berkomunikasi dengan Hidup, maka Hidup itu terlebih dulu, harus diberi “Asmo”.

Dalam hal ini, jangan diterjemahkan dengan Nama, Aran atau jeneng dan semacamnya.

“Asmo”, diberikan, hanya kepada mereka yang sungguh sungguh sudah membuktikan dayanya Hidup lewat “Kunci” dan sudah yakin benar akan kuasanya Hidup. Kemudian bertekad untuk bisa mengikuti segala kehendak (karsanya )-nya Hidup.

Benar ? Sekali lagi. Benarkah anda sudah siap dan bertekad mau menjalani kehidupan dan penghidupan anda, dengan selalu mengikuti, menuruti karsanya Hidup?.

Sekali lagi, anda renungkan dan pertimbangkan masak masak. Sebab, kalau Hidup anda sudah dapat “Asmo”, berarti anda sudah sepenuhnya menjadi Penghayat Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil (Penghayat Kapribaden).

Kalau anda mengingkari Hidup, anda akan ditagih oleh Hidup anda sendiri. Sekalipun tak seorangpun tahu.

Dalam Penghayatan ini, tidak ada Guru-Murid. Tidak ada yang Menuntun dan Dituntun.

Kalau Hidup anda sudah dapat “Asmo” , dalam menjalani laku, anda sepenuhnya berdiri sendiri (mandiri, mandireng pribadi). Guru anda adalah Hidup anda sendiri, Penuntun anda adalah Hidup anda sendiri. Yang jadi murid adalah anda sendiri, yang dituntun adalah anda sendiri juga.

Bagaimana ? Siap ? Tidak ragu ragu lagi?

Kalau memang benar benar siap :

Mintalah “Asmo”-nya Hidup anda kepada Kadhang, yang memang sudah diperkenankan memberikan “Asmo”.

Setiap Penghayat, boleh, memberikan “Kunci” Hidup. Tetapi tidak setiap Penghayat diperkenankan memberikan “Asmo”-nya Hidup.

Boleh-tidaknya seseorang memberikan “Asmo”, ditentukan, diijinkan oleh Hidup itu sendiri, karena laku yang bersangkutan. Bukan diijinkan oleh seseorang.

Kalau dipaksakan, seseorang memberikan “Asmo”, padahal belum diperkenankan, maka tidak akan ada gunanya “Asmo” yang diberikan itu. Yang diberi, tidak bisa menggunakannya.

 

Copyright © 2005-2026 Kapribaden - V.1.9. All rights reserved.